Dunia sedang menghadapi krisis lingkungan yang tak terbantahkan: perubahan iklim, polusi, deforestasi, dan kepunahan massal spesies. Namun, di tengah situasi ini, suara anak muda justru menjadi penentu harapan. Greta Thunberg, aktivis iklim asal Swedia, dan Farwiza Farhan, pejuang lingkungan dari Aceh, membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk menciptakan perubahan sistemik. Artikel ini akan membahas mengapa partisipasi anak muda penting, bagaimana pendidikan lingkungan bisa diintegrasikan ke kelas, dan mengapa aksi nyata—berbasis riset—harus menjadi inti gerakan ini.
Greta Thunberg dan kekuatan aksi solo
Greta Thunberg memulai aksinya pada 20 Agustus 2018 dengan duduk sendirian di depan parlemen Swedia sambil membawa poster “Skolstrejk för klimatet” (mogok sekolah untuk iklim). Aksi solo ini berkembang menjadi gerakan global Fridays for Future, yang memobilisasi jutaan anak muda di 150+ negara. Kunci keberhasilannya terletak pada dua hal: konsistensi dan penggunaan data ilmiah.
- Konsistensi tanpa kompromi: Greta menolak jargon politisi yang hanya berjanji tanpa tindakan nyata. Dalam pidato di KTT PBB 2019, ia menggugat: “How dare you? You have stolen my dreams and my childhood with your empty words!”.
- Basis ilmiah: Setiap argumennya merujuk pada laporan IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim) dan data emisi karbon. Ini menunjukkan bahwa aktivisme lingkungan harus berbasis fakta, bukan sekadar retorika.
Prestasinya—sebagai Time’s Person of the Year 2019 dan penerima Gulbenkian Prize for Humanity 2020—membuktikan bahwa anak muda bisa memengaruhi kebijakan global.
Farwiza Farhan dan perjuangan dari akar rumput
Di Indonesia, Farwiza Farhan, pendiri Yayasan HAkA, menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan harus dimulai dari lapangan. Fokusnya pada Ekosistem Leuser di Sumatra—rumah terakhir bagi orangutan, harimau, gajah, dan badak Sumatera—menjadi contoh konkret bagaimana kolaborasi komunitas lokal dan advokasi hukum bisa menghentikan perusakan lingkungan.
- Pendekatan holistik: Farwiza menggabungkan patroli anti-perburuan liar, restorasi hutan, dan gugatan hukum terhadap perusahaan sawit ilegal. Pada 2019, timnya berhasil membatalkan proyek pembangunan bendungan yang akan menghancurkan 4.000 hektare hutan primer.
- Pemberdayaan komunitas: Melibatkan masyarakat lokal dalam pemantauan dan perencanaan tata ruang, ia membuktikan bahwa konservasi tidak bisa dipisahkan dari keadilan sosial.
Kisah Farwiza, yang masuk daftar TIME100 2022, mengajarkan bahwa aktivisme lingkungan harus kontekstual dan melibatkan suara mereka yang langsung terdampak.
Pendidikan lingkungan: Dari teori ke praxis ala Paulo Freire
Paulo Freire, filsuf pendidikan Brazil, menekankan bahwa pendidikan harus membebaskan—bukan sekadar menghafal teori. Konsep praxis (refleksi + aksi) relevan untuk pendidikan lingkungan. Berikut beberapa cara mengintegrasikannya:
Kurikulum berbasis proyek
Kurikulum berbasis proyek membuka pintu bagi pengalaman belajar yang mendalam dan relevan bagi siswa. Contohnya, guru bersama siswa dapat merancang program pemetaan polusi udara di sekitar sekolah atau permukiman mereka. Dengan menggunakan alat sederhana, mereka dapat mengumpulkan data kualitas udara, menganalisis sumber-sumber polusi, dan menyajikan temuan dalam bentuk visual yang mudah dipahami. Alternatif lain adalah melakukan audit sampah di sekolah untuk mengidentifikasi jenis dan volume sampah yang dihasilkan, serta merumuskan strategi pengurangan dan daur ulang yang efektif.
Pendekatan ini tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga melatih keterampilan observasi, analisis, dan kolaborasi. Penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran eksperiensial secara signifikan meningkatkan pemahaman siswa tentang isu-isu lingkungan yang kompleks. Dengan terjun langsung ke lapangan dan berinteraksi dengan permasalahan nyata, siswa menjadi lebih termotivasi untuk belajar dan berkontribusi dalam menciptakan solusi berkelanjutan.
Kolaborasi dengan komunitas
Di Aceh, kolaborasi nyata dapat terwujud misalnya jika terjalin kemitraan antara siswa sekolah dengan Yayasan HAkA, sebuah organisasi yang aktif dalam konservasi Ekosistem Leuser. Siswa dapat terlibat langsung dalam memantau keanekaragaman hayati di sekitar lingkungan mereka, mulai dari mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan dan satwa liar, mencatat perubahan habitat, hingga melaporkan aktivitas ilegal seperti perburuan atau penebangan liar. Kegiatan ini bukan hanya memberikan pengetahuan praktis tentang ekologi dan konservasi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran mendalam tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.
Lebih dari sekadar belajar di luar kelas, partisipasi aktif dalam aksi nyata seperti ini memberikan manfaat yang tak ternilai bagi perkembangan karakter siswa. Mereka merasakan langsung dampak dari tindakan mereka terhadap lingkungan, yang kemudian memicu tumbuhnya agency—keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk membuat perubahan positif. Selain itu, siswa yang terlibat juga berkesempatan untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, mulai dari mengorganisir kegiatan lapangan, berinteraksi dengan masyarakat setempat, hingga menyampaikan hasil temuan mereka kepada pihak-pihak terkait. Keterlibatan semacam ini akan membentuk generasi muda Aceh yang peduli, kompeten, dan siap memimpin upaya pelestarian lingkungan di masa depan.
Bagaimana anak muda bisa terlibat?
Memulai aksi nyata untuk isu lingkungan bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana dan berdampak. Ajaklah teman-teman untuk mengikuti clean-up challenge di sungai atau pantai terdekat, meniru inisiatif gerakan-gerakan lokal seperti Pandawara Group. Manfaatkan kekuatan media sosial untuk meluncurkan kampanye berbasis data, seperti membuat infografis yang informatif tentang emisi karbon di Indonesia.
Aksi individu akan lebih kuat jika dilakukan secara kolektif. Bergabunglah dengan organisasi-organisasi terkait untuk melakukan aksi bersama yang lebih terorganisasi. Manfaatkan platform petisi online untuk menyuarakan penolakan terhadap proyek-proyek berisiko tinggi yang mengancam lingkungan, misalnya, penambangan di hutan lindung.
Anak muda dapat berperan aktif dalam advokasi kebijakan. Dorong sekolah atau kampus untuk mengadopsi kebijakan-kebijakan ramah lingkungan, seperti melarang penggunaan plastik di kantin atau memasang panel surya sebagai sumber energi alternatif. Hadiri konsultasi publik atau audiensi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk menyuarakan pentingnya perlindungan terhadap ekosistem lokal yang terancam. Dengan cara ini, suara anak muda dapat didengar dan dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada lingkungan.
Partisipasi anak muda dalam advokasi mampu mendorong kebijakan yang lebih ambisius. Pendidikan lingkungan harus keluar dari kelas—menjadi gerakan yang hidup, kritis, dan membumi. Seperti kata Greta: “No one is too small to make a difference.” []
Sikula id
Muhammad
Ayu